Gangguan Cloudflare Berdampak Global, DSI YPTA Surabaya Beri Penjelasan
Layanan
infrastruktur internet global, Cloudflare, mengalami gangguan serius pada Selasa
malam (18/11/25), membuat sejumlah platform digital besar tidak dapat diakses.
Melansir
Kompas.com, mulai pukul 18.30 WIB, ribuan laporan masuk ke Downdetector karena
layanan seperti X/Twitter, ChatGPT, Canva, hingga berbagai website
internasional menampilkan Error 500. Gangguan sempat mereda sekitar pukul
19.00–19.30 WIB sebelum Cloudflare melakukan perbaikan bertahap.
Untuk
memahami dampak insiden ini, Wakil Manajer Jaringan dan Hardware Direktorat
Sistem Informasi (DSI) Yayasan Perguruan 17 Agustus 1945 (YPTA) Surabaya,
Muhammad Rohmattullah, M.Kom, menjelaskan mekanisme dan peran Cloudflare bagi
layanan digital.
Cloudflare Ibarat Satpam
dan Polisi Lalu Lintas Internet
Menurut
Rohmat, Cloudflare ibarat satpam sekaligus polisi lalu lintas internet. Layanan
ini berdiri di antara pengguna dan server asli website, melindungi situs dari
serangan berbahaya seperti Distributed Denial of Service (DDoS) sekaligus
mengatur lalu lintas data agar akses menjadi cepat dan lancar.
“Cloudflare
itu ibarat satpam sekaligus polisi lalu lintas internet. Mereka menjaga website
tetap aman dari serangan, dan mengatur jalur lalu lintas data agar tidak
macet,” jelas Rohmat (20/11)
Cloudflare
memiliki ribuan server yang tersebar di seluruh dunia, sehingga banyak website
memanfaatkan layanannya untuk mempercepat akses dan melindungi diri dari
serangan siber.
“Dalam
kasus ini, gangguan bukan akibat serangan hacker,
melainkan berasal dari kesalahan internal Cloudflare sendiri. Saat perusahaan
tersebut memperbarui sistem deteksi bot, terjadi bug yang menyebabkan
konfigurasi mereka bermasalah. Kesalahan kecil dalam sistem yang begitu besar
inilah yang memicu efek berantai ke seluruh dunia,” tukasnya
Respons DSI YPTA
Surabaya Saat Terjadi Insiden
Saat
gangguan terjadi, tim DSI langsung memeriksa seluruh sistem untuk memastikan
sumber masalah. Rohmat menjelaskan bahwa langkah pertama adalah mengecek apakah
gangguan berasal dari server internal atau dari penyedia layanan luar.
“Kami
harus tahu dulu, ini masalah di server kami atau gangguan global. Setelah
dipastikan ini karena Cloudflare, kami segera memberi tahu semua unit supaya
tidak panik,” ujar Rohmat
Sistem
utama YPTA Surabaya tidak terdampak karena tidak menggunakan Cloudflare untuk
layanan akademik maupun website unit. Namun, pekerjaan staf sempat terganggu
karena banyak dari mereka menggunakan layanan seperti Canva dan ChatGPT, yang
ikut tumbang akibat gangguan Cloudflare. Meski begitu, semua sistem internal
tetap berjalan normal.
Rohmat
juga memastikan bahwa seluruh data kampus berada di server internal milik DSI,
sehingga tidak ada risiko kebocoran data akibat insiden ini.
“Data
mahasiswa, dosen, dan tendik semuanya ada di server internal kami. Tidak ada
yang disimpan melalui Cloudflare, jadi semuanya aman,” tegasnya.
Tim
DSI juga rutin melakukan pencadangan data setiap hari di seluruh server
akademik dan administrasi. Selain itu, mereka membuat arsip cadangan lengkap
secara berkala untuk memastikan data bisa dipulihkan jika terjadi masalah
besar. Dengan sistem ini, data dapat dijaga keamanannya dan dapat dipulihkan
tanpa membutuhkan waktu pemulihan yang lama.
Kerja 24 Jam untuk
Menjaga Sistem Tetap Stabil
Rohmat
juga menjelaskan bahwa pekerjaan menjaga sistem digital tidak berhenti pada jam
kantor. Seluruh staf di bawah DSI, baik dari divisi pengembangan maupun
infrastruktur, bekerja dan melakukan pemantauan selama 24 jam penuh.
Pada
jam kerja mereka menangani permohonan layanan dari unit-unit dilingkungan YPTA
Surabaya, sementara di luar jam kerja mereka tetap bertugas memastikan seluruh
sistem tetap berjalan tanpa henti.
“Ini
bukan sekadar standby. Kami benar-benar bekerja sepanjang hari. Dalam jam kerja
kami menangani permohonan unit, di luar jam kerja kami terus memonitor
jaringan. Ibaratnya, sistem kami tidak boleh tidur,” katanya.
Jika
terjadi gangguan, tim sudah menyiapkan langkah darurat sehingga pemulihan dapat
dilakukan sesegera mungkin. Mereka memastikan bahwa seluruh server memiliki
cadangan yang dapat diaktifkan kapan saja apabila terjadi insiden seperti
peretasan atau kerusakan sistem.
Belajar dari Insiden
Cloudflare: “Jangan Taruh Semua Telur di Satu Keranjang”
Insiden
ini menjadi evaluasi penting bagi DSI YPTA Surabaya. Saat ini, mereka
mempertimbangkan penggunaan Multi-CDN, yakni memakai lebih dari satu penyedia
layanan jaringan. Dengan cara ini, jika satu layanan mengalami gangguan, trafik
internet bisa dialihkan ke penyedia lain sehingga sistem tetap berjalan.
“Kami
sedang mengkaji Multi-CDN. Intinya, jangan menaruh semua telur di satu
keranjang. Kalau satu jalur bermasalah, trafik bisa dialihkan ke jalur lain,”
kata Rohmat.
Meski
Cloudflare masih menjadi pilihan yang masuk akal karena teknologinya canggih
dan biayanya lebih efisien, setiap institusi tetap perlu menyiapkan strategi
cadangan untuk mengurangi risiko.
Gangguan Cloudflare menjadi pengingat bahwa dunia digital tidak pernah lepas dari risiko. Yang terpenting bukan hanya seberapa kuat sistem mencegah gangguan, melainkan seberapa cepat dan tangguh sistem mampu bangkit saat terjadi insiden. DSI YPTA Surabaya berkomitmen terus meningkatkan ketahanan infrastruktur digital agar layanan operasional tetap berjalan meski jaringan global terganggu.
Direktorat Sistem Informasi